www.narasiutama.id – Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat baru-baru ini mengungkapkan bahwa kinerja sektor jasa keuangan di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) menunjukkan stabilitas yang positif hingga November 2025. Hal ini mencerminkan ketahanan sektor dalam menghadapi berbagai tantangan perekonomian global dan domestik yang ada.
Moch. Muchlasin, Kepala OJK Provinsi Sulselbar, menyoroti bahwa stabilitas ini didukung oleh pengelolaan yang solid dalam sektor Perbankan, Pasar Modal, dan Industri Keuangan Non Bank (IKNB). Ketiga sektor tersebut terus berfungsi sebagai perantara, menjaga kepercayaan publik, dan memperluas akses layanan keuangan yang inklusif dan berkelanjutan.
Pentingnya stabilitas ini juga terlihat dalam kontribusinya terhadap aktivitas ekonomi daerah, mendukung pembiayaan pada sektor-sektor produktif, serta memperkuat ketahanan perekonomian regional menjelang tahun 2026. Melihat data yang ada, kinerja sektor Perbankan di Sulampua tetap menunjukkan kondisi yang stabil.
Pertumbuhan Aset Perbankan dan Dana Pihak Ketiga di Sulampua
Per November 2025, total aset perbankan tercatat mencapai Rp572,44 triliun dengan pertumbuhan sebesar 4,26 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa sektor perbankan mampu menjaga pertumbuhannya meski di tengah tantangan yang ada.
Di sisi lain, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) di Sulampua mengalami pertumbuhan yang signifikan sebesar 5,86 persen, mencatatkan jumlah Rp362,46 triliun. Struktur dana tersebut didominasi oleh tabungan, dengan proporsi sebesar 58,83 persen, diikuti oleh giro 22,16 persen dan deposito 19,02 persen.
Penyaluran kredit perbankan pada periode yang sama juga menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik, mencapai 4,05 persen (yoy) dengan total kredit mencapai Rp449,98 triliun. Dari total portofolio kredit, sekitar 47,94 persen dialokasikan untuk kredit produktif, sedangkan sisanya 52,06 persen untuk kredit konsumtif.
Tantangan Penyaluran Kredit dan Kualitas Aset Perbankan
Sementara itu, meski terjadi pertumbuhan, ada penahanan pada segmen kredit modal kerja yang mempengaruhi keseluruhan kinerja penyaluran kredit. Hal ini menunjukkan bahwa beberapa kendala masih harus dihadapi agar pertumbuhan kredit dapat lebih optimal.
Dari sisi kualitas aset perbankan, hingga kini tetap terjaga dengan baik. Rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tercatat pada level 2,99 persen, yang berada di bawah ambang batas yang ditentukan. Ini menunjukkan manajemen risiko yang baik di sektor perbankan.
Tingginya rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) yang mencapai 124,14 persen merupakan indikator optimasi fungsi intermediasi perbankan di Sulampua. Rasio yang tinggi ini menandakan bahwa bank secara aktif menyalurkan kredit atau pembiayaan kepada masyarakat.
Peran Pasar Modal dan Industri Keuangan Non Bank
Di samping sektor perbankan, pasar modal juga berkontribusi dalam menjaga stabilitas sektor jasa keuangan. Aktivitas di pasar modal bulan-bulan terakhir menunjukkan peningkatan kepercayaan investor, meski tetap disikapi dengan kehati-hatian mengingat fluktuasi pasar yang tak terduga.
Industri Keuangan Non Bank (IKNB) pun tak kalah penting dalam mendukung kinerja keseluruhan. IKNB berperan aktif dalam memberikan alternatif pembiayaan, serta menyediakan berbagai produk keuangan yang mampu menjangkau masyarakat dengan baik.
Kontribusi dari kedua sektor ini menjadi sangat penting untuk beradaptasi dengan perkembangan perekonomian global. Melalui sinergi yang baik antara ketiga sektor finansial, diharapkan ketahanan perekonomian regional dapat terjaga dalam jangka panjang.
Kesimpulan dan Harapan untuk Masa Depan
Kinerja sektor jasa keuangan di Sulampua menunjukkan tanda-tanda yang positif meskipun di tengah tantangan yang ada. Hal ini diharapkan bisa menjadi penyokong utama bagi pertumbuhan ekonomi regional di masa yang akan datang.
Melalui berbagai langkah strategis yang diambil oleh OJK dan instansi terkait, stabilitas perekonomian dapat terus terjaga. Langkah-langkah ini diharapkan tidak hanya bertujuan untuk kepentingan jangka pendek, tetapi juga untuk memperkuat pondasi perekonomian jangka panjang.
Dengan demikian, harapan untuk menjaga dan meningkatkan kinerja sektor jasa keuangan tetap menjadi fokus utama bagi semua stakeholder. Dengan kolaborasi yang baik, kita dapat menjawab tantangan yang ada serta memanfaatkan peluang untuk pertumbuhan yang lebih berkelanjutan di masa depan.


